Skip to main content

BAB II PELESTARIAN LINGKUNGAN - CHAPTER II ENVIRONMENTAL CONSERVATION

A. Jenis-jenis limbah pada kegiatan agribisnis perbenihan dan kultur jaringan tanaman
BAB II PELESTARIAN LINGKUNGAN - CHAPTER II ENVIRONMENTAL CONSERVATION

      Limbah dapat diartikan sebagai bahan yang dibuang dari suatu kegiatan tertentu.
Sabut kelapa, jerami padi, dan kelobot jagung merupakan limbah dari sektor pertanian.
Berdasarkan kejadiannya, limbah pertanian dapat dikelompokkan ke dalam limbah
sebelum panen dan setelah panen. Limbah setelah panen dapat juga dikelompokkan ke
dalam limbah sebelum diolah dan limbah setelah diolah (limbah industri pertanian).
Secara umum limbah dikelompokkan ke dalam limbah organik dan an-organik. Limbah
organik adalah limbah yang berasal dari makhluk hidup seperti bagian tumbuh-tumbuhan
baik akar, batang, daun, dan sebagainya. Yang dikatakan limbah anorganik adalah limbah
yang berasal dari benda mati seperti plastik, alumunium foil, pecahan kaca, dll.

      Pada kegiatan agribisnis perbenihan jenis limbah organik yang banyak ditemukan
adalah berangkasan kacang-kacangan (legum), kelobot dan batang jagung, batang dari 
hasil panen buah yang diambil bijinya untuk benih, dll. Di laboratorium pengujian mutu
benih, limbah organik yang banyak ditemukan adalah kecambah hasil pengujian daya
tumbuh benih. Kecambah-kecambah ini jika dibiarkan dapat mengeluarkan bau yang
tidak sedap dan mengurangi keindahan lingkungan. Limbah organik ini dapat
dimanfaatkan untuk dijadikan kompos.

      Limbah yang terdapat di Laboratorium Kultur Jaringan diantaranya limbah anorganik
berupa plastik, alumunium foil, pecahan botol, dll. Limbah organik dapat berupa eksplan
yang terkontaminasi, sisa bahan tanaman yang sudah diambil sebagai eksplan, dll.
      Berdasarkan wujudnya limbah pertanian dapat dikelompokkan ke dalam limbah
padat, limbah cair, dan limbah gas.

a) Limbah Padat
Bahan-bahan buangan baik dari limbah sebelum panen ataupun setelah panen yang
wujudnya padat dikelompokkan pada limbah padat. Limbah-limbah tersebut di atas kalau
dibiarkan menumpuk saja tanpa penanganan tertentu akan menyebabkan kondisi
lingkungan tidak sehat. Limbah padat dapat diolah menjadi pupuk/kompos dan makanan
ternak.

b) Limbah cair
Limbah cair pertanian dapat berasal dari air cucian hasil pertanian seperti produk sayuran
(kangkung, caisin), bengkuang, ubi jalar, atau air cucian peralatan pertanian seperti
peralatan tanam, pemupukan, pengendalian OPT. Limbah cair yang berbahaya adalah
yang mengandung insektisida, fungisida, senyawa yang mengandung gas chlorin, dan
herbisida. Sisa pestisida atau bekas sterilisasi eksplan menggunakan bayclin jika terbawa
air irigasi atau air hujan dapat mematikan biota sungai atau hewan yang mengonsumsi air
tersebut. Oleh karena itu limbah pestisida jangan dibuang sembarangan sehingga tidak
mencemari air sungai.

c) Limbah gas
Limbah gas adalah limbah berupa gas yang dikeluarkan pada saat pengolahan hasil-hasil
pertanian, misalnya gas yang timbul berupa uap air pada proses pengurangan kadar air 
selama proses pelayuan teh dan proses pengeringannya. Limbah gas ini supaya tidak
menimbulkan bahaya harus disalurkan lewat cerobong.

      Dalam kegiatan pertanian, penggunaan pupuk buatan, zat kimia pemberantas hama
(pestisida), dan pemberantas tumbuhan pengganggu (herbisida) dapat mencemari tanah,
dan air. Herbisida merupakan pestisida yang 40% produknya sudah digunakan di dunia.
Para petani menggunakan herbisida untuk mengontrol atau mematikan sehingga
tanaman pertanian dapat tumbuh dengan baik. Fungisida merupakan pestisida yang
digunakan untuk mengontrol atau memberantas cendawan (fungi) yang dianggap sebagai
wabah atau penyakit. Penyemprotan fungisida dapat melindungi tanaman pertanian dari
serangan cendawan parasit dan mencegah biji (benih) menjadi busuk di dalam tanah
sebelum berkecambah. Akan tetapi, sejak metal merkuri sangat beracun terhadap
manusia, biji-bijian yang telah mendapat perlakuan fungisida yang mengandung metal
merkuri tidak pernah dimanfaatkan untuk bahan makanan. Fungisida dapat memberi
dampak buruk terhadap lingkungan.

B. Dampak Limbah Pertanian


  •  Gangguan terhadap Kehidupan Biotik

Senyawa-senyawa yang terkandung di dalam air limbah dapat menyebabkan menurunnya
kadar oksigen yang terlarut di dalam air tersebut. Hal ini menyebabkan mikroorganisme
di dalam air limbah mati karena kurangnya oksigen. Selain kekurangan oksigen, kematian
biotik dapat juga disebabkan karena adanya zat beracun yang terkandung di dalam air
limbah tersebut. Air limbah yang panas juga dapat mematikan semua organisme yang
terkandung di dalam penampungan limbah. Oleh karena itu air limbah yang panas
perlu dilakukan pendinginan terlebih dahulu sebelum dibuang ke dalam saluran air
limbah.

  •  Gangguan terhadap Keindahan dan Folusi Udara

Ampas yang berasal dari limbah pabrik perlu diendapkan terlebih dahulu sebelum
dibuang ke saluran air limbah. Pengendapan yang terlalu lama mengakibatkan timbulnya
bau yang tidak sedap karena proses penguraian zat organik.

  •  Gangguan terhadap Kesehatan

Limbah cair sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia mengingat bahwa banyak
penyakit yang dapat ditularkan melalui air limbah. Limbah cair ini ada yang hanya
berfungsi sebagai media pembawa saja seperti penyakit kolera, radang usus, hepatitis,
diare.

C. Cara Penanganan Limbah Pertanian

      Limbah pertanian, pengelelolaannya perlu mendapat perhatian karena dapat
menjadi sumber bencana bagi manusia. Jika tidak dikelola dengan baik maka limbah
pertanian sering menjadi tempat bersarang/berkembang biak hama dan penyakit,
terjadinya pencemaran (polusi) udara berupa gas Metan (CH4), CO2, dan N2O. Tanaman
penyumbang terbesar biomassa (limbah) antara lain: Tebu (92%), Padi (80%), Jagung
(70%), kakao (92%), Kelapa sawit (96,5%) dan sayur-sayuran (60%). Limbah jika dikelola
dengan tepat, akan menjadi sumber pendapatan baru bagi petani. Limbah dapat dibuat
berbagai macam produk seperti biofull, biogas, briket, asap cair, biopestisida, dan
kompos.
      Biofull adalah jenis bahan bakar terbaru, biasanya ditemukan dalam bentuk cair yang
telah disuling dan diproduksi dari berbagai bentuk biji-bijian dan lemak nabati, biasanya
jagung yang digunakan. Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktifitas anaerobik atau
fermentasi dari bahan-bahan organik seperti kotoran manusia dan hewan atau sisa-sisa
limbah pertanian. Briket adalah sumber energi alternatif pengganti minyak tanah dan LPG
dari bahan-bahan bekas atau bahan yang sudah tidak terpakai lagi. Asap cair adalah
campuran larutan dari disperse asap kayu dalam air yang dibuat dengan mengondensasi
asap cair hasil pirolisis. Biopestisida adalah agen biologi atau produk-produk alam yang
digunakan untuk mengontrol hama pada tanaman.
       Kompos merupakan pupuk organik, kaya akan keanekaragaman mikroorganisme
dengan komposisi bakteri 106
-1010 cfu, aktinomycetes 104
-108 dan cendawan 104
-106
cfu/gram. Kompos berfungsi sebagai soil conditioner yang dapat memperbaiki
struktur, sifat kimia, fisik, dan biologi tanah, serta sebagai soil ameliorator yang dapat
meningkatkan kemampuan pertukaran kation baik di ladang maupun di tanah sawah.

Teknik Pembuatan Kompos dari Limbah Organik 

      Pengomposan adalah suatu proses pengelolaan limbah padat secara bertahap.
Komponen bahan padat diuraikan secara biologis di bawah keadaan terkendali sehingga
menjadi bentuk yang dapat ditangani, disimpan, atau digunakan untuk lahan pertanian
tanpa pengaruh yang merugikan. Pengomposan bahan-bahan organik terutama pada sisa sisa tanaman dan kotoran hewan sering dilakukan oleh para petani dengan tujuan untuk
menambah tingkat kesuburan lahan pertanian yang dikelolanya. Tujuan dan sasaran
pengomposan pada dasarnya untuk memanfaatkan bahan-bahan organik yang berasal dari
bahan-bahan limbah, mengurangi bau, membunuh organisme patogen dan biji-biji gulma,
pada akhirnya menghasilkan pupuk organik yang dapat memperbaiki kesuburan tanah.
Proses pengomposan dapat berlangsung secara aerobik maupun anaerobik. Pada proses
dekomposisi secara aerobik, mikroorganisme menggunakan oksigen untuk menguraikan
bahan organik dan mengasimilasi Karbon, Nitrogen, Fosfor, Sulfur, dan unsur-unsur lainnya
untuk sintesis protoplasma. Pada kondisi kekurangan oksigen, proses pengomposan berjalan
secara anaerobik. Pada proses dekomposisi secara anaerobik, reaksi biokimia berlangsung
melalui proses reduksi.
      Kecepatan penguraian bahan organik menjadi kompos bergantung pada beberapa
faktor yaitu: ukuran partikel bahan, nilai C/N bahan, kandungan air, aerasi, keasaman (pH)
dan suhu.
1) Ukuran Partikel
Ukuran partikel berpengaruh pada keberhasilan proses pengomposan. Ukuran yang
baik antara 10 sampai 50 mm, apabila terlalu kecil ruang-ruang antara partikel
menjadi sempit sehingga dapat menghambat gerakan udara ke dalam tumpukan dan
sirkulasi gas karbon dioksida keluar tumpukan. Apabila ukuran partikel sangat besar,
luas permukaan kurang sehingga reaksi pengomposan akan berjalan lambat atau bahkan
akan berhenti sama sekali.
2) Nilai C/N bahan
Semakin rendah nilai C/N bahan, waktu yang diperlukan untuk pengomposan semakin
singkat.
3) Kandungan Air
Kandungan air pada bahan organik sebaiknya antara 30 – 40%, hal ini ditandai dengan
tidak menetesnya air apabila bahan digenggam dan akan mekar apabila genggaman 
dilepaskan. Kandungan air bahan terlalu tinggi, ruang antar partikel dari bahan
menjadi sempit karena terisi air, sehingga sirkulasi udara dalam tumpukan akan
terhambat. Kondisi tersebut berakibat pada tumpukan bahan akan didominasi oleh
mikroorganisme anaerob yang menghasilkan bau busuk tidak sedap.
4) Aerasi
Dalam proses pengomposan, mikroorganisme dalam bahan organik sangat
memerlukan jumlah udara yang cukup, karena prosesnya berlangsung secara aerob.
Aerasi dapat diperoleh melalui gerakan udara dari alam masuk ke dalam tumpukan
dengan membulak-balik bahan secara berkala.
5) Keasaman (pH)
        Keasaman atau pH dalam tumpukan kompos juga mempengaruhi aktivitas
mikroorganisme. Kisaran pH yang baik untuk pengomposan sekitar 6,5—7,5 (netral).
Oleh karena itu, dalam proses pengomposan sering diberi tambahan kapur atau abu
dapur untuk menaikkan pH.
Proses pengomposan dapat dipercepat dengan bantuan aktivator. Beberapa
aktivator yang tersedia di pasaran antara lain OrgaDec, Stardec, EM4, dan Fix–Up
Plus. Semua aktivator tersebut sudah dikemas dalam berbagai ukuran yang siap
dipasarkan
       Dalam proses pengomposan dapat juga melibatkan hewan lain (organisme makro),
seperti cacing tanah yang bekerja sama dengan mikroba dalam proses penguraian.
Dalam hal ini, cacing memakan bahan organik yang tidak terurai, mencampur bahan
organik, dan membuat rongga-rongga udara sebagai aerasi. Kehadiran cacing tanah
dapat mempercepat penghancuran bahan organik oleh mikroorganisme. Penguraian
oleh mikroorganisme disebut pengomposan atau composting, sedangkan
keterlibatan cacing (vermes) dalam proses pengomposan disebut vermicomposting
dan hasilnya disebut casting atau kascing.
6) Suhu
      Suhu ideal dalam pengomposan antara 300C sampai 450C. Apabila suhunya terlalu tinggi
maka mikroorganisme akan mati, sebaliknya apabila suhu pengomposan terlalu
rendah, mikroorganisme belum dapat bekerja secara optimal.

 Adapun teknik pembuatan kompos adalah sebagai berikut :


a) Bahan organik yang akan dikomposkan (berupa sisa tanaman yang ukurannya masih
panjang) dikecilkan ukurannya dengan dipotong-potong menjadi sekitar 3-5 cm.
Bahan yang sudah seragam tersebut dicampurkan dengan pupuk kandang dengan
perbandingan 1:3. Bahan diaduk sampai homogen/merata sambil disiram air sehingga
pada saat campuran dikepal mengeluarkan tetesan air.

b) Komposkan campuran bahan dengan cara menumpukkan pada tanah/lantai setinggi
kira-kira 1 m, selanjutnya ditutup karung goni/plastik pada seluruh permukaannya.
Proses pengomposan dapat berlangsung 2 sampai 3 minggu, tergantung dari jenis
bahan. Amati dan catat setiap hari kenaikan suhu dan perubahan warna tumpukan
bahan. Kegiatan ini untuk mengetahui apakah proses pengomposan dapat
berlangsung baik atau tidak.

c) Tumpukan bahan diaduk setiap tiga hari sekali secara merata dan ditutup kembali.
Kegiatan ini untuk menghindari kelebihan suhu dan diharapkan proses penguraian
dapat berlangsung pada seluruh permukaan bahan.

d) Apabila pengomposan telah memenuhi kreteria: suhu telah turun dan stabil, warna
bahan coklat kehitaman, sebagian besar bahan telah lapuk, dan timbul bau khas
kompos, maka kompos telah jadi. Akan tetapi kompos yang dihasilkan perlu diuraikan
lebih lanjut dengan menambah waktu pengomposan secara alami.

C. Pelestarian Lahan Produksi Benih

      Untuk memperoleh benih bermutu dan hasil yang maksimal diperlukan kondisi tanah
yang subur. Tanah yang subur adalah tanah yang mempunyai profil yang dalam,
strukturnya gembur, remah, pH 6-6,5, mempunyai aktivitas jasad renik yang tinggi
(maksimum). Kandungan unsur hara yang tersedia bagi tanaman adalah cukup dan tidak
terdapat pembatas-pembatas tanah untuk pertumbuhan tanaman.
      Faktor-faktor yang dapat mengurangi kesuburan tanah diantaranya pengolahan
tanah yang intensif apalagi menggunakan alat-alat berat seperti traktor. Kegiatan ini
dapat menyebabkan tanah menjadi keras dan padat sehingga oksigen di dalam tanah
terbatas, di samping rawan terjadinya erosi. Penggunaan insektisida dapat mematikan
fauna tanah, hal ini juga dapat menurunkan kesuburan tanah.
      Fauna tanah berperan dalam proses mineralisasi bahan organik tanah dan proses
pembentukan agregasi tanah. Hal ini berkaitan dengan ketersediaan unsur hara dan 
percegahan erosi oleh air. Reaksi bahan organik tanah dengan bahan kimia fitotoksik
dapat mengurangi tingkat keracunan dalam tanah. Selain itu proses transformasi dan
dekomposisi pestisida dalam tanah oleh organisme tanah dapat juga mencegah akumulasi
keracunan tanah.
      Penggunaan pupuk kimia yang terus menerus dapat mengakibatkan tanah menjadi
asam sehingga produktivitas tanah menurun. Untuk menjaga kesuburan tanah di lahan
produksi benih dapat dilakukan pengolahan tanah dengan sistem olah tanah konservasi,
penambahan bahan organik ke dalam tanah, serta penggunaan pupuk kimia secara
bijaksana. 

Comments

Popular posts from this blog

BAB VIII PENGUJIAN MUTU BENIH - CHAPTER VIII TESTING OF QUALITY SEED

Tujuan Pengujian Mutu Benih Pengujian mutu benih di laboratorium bertujuan untuk mengetahui kualitas benih, meliputi kualitas genetis, morfologis/fisik, dan fisiologis benih yang digunakan untuk keperluan penanaman. Keterangan mutu benih tersebut mungkin diperlukan oleh produsen, pengawas, pedagang, maupun pemakai benih. Keterangan mutu benih untuk keperluan pengawasan dan sertifikasi benih, pengujian mutunya harus dilakukan di laboratorium Balai Pengawasan Sertifikasi Benih yang terdapat di setiap daerah. Pengujian mutu benih di laboratorium dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu pengujian standar dan pengujian khusus. Pengujian standar adalah pengujian untuk keperluan pengisian/pengecekan data label. Pengujian standar umumnya terdiri atas (1) pengujian kadar air, (2) pengujian kemurnian, (3) penetapan varietas lain, dan (4) pengujian daya tumbuh. Pengujian khusus atau spesifik adalah pengujian tentang sifat-sifat benih yang mencirikan mutu spesifik benih atau kelompok...

BAB I KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA - CHAPTER I HEALTH AND SAFETY SAFETY

JENIS - JENIS BAHAYA DAN PROSEDUR K3 DI LABORATORIUM KULTUR JARINGAN         Kecelakaan biasanya terjadi karena seseorang mengabaikan keselamatan saat sedang bekerja di laboratium kerja. Jenis bahaya potensial dapat disebabkan oleh radiasi ultraviole, bahan yang mudah terbakar, bahan kimia, kontaminan, dan perlatan yang sedang digunakan.        Pada proses pembuatan media kultur dan sterilisasi eksplan pekerja selalu berhubungan dengan penggunaan bahan -  bahan kimia bersifat racun yang dapat menciderai dirinya, baik melalui pernafasan maupun sentuhan kulit. Beberapa dari bahan kimia ini yang berpotensi membuat bahaya bagi pelaksana di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman adalah : Bahan yang bersifat abrasive: Al2O3 (alumina Oksida), Kapur/Calcium Carbonat (CaCO2), Silica dari alumina, besi, cobalt magnesim, dan lain - lain. Cairan electrolit seperti, HCI, NaOH, H2SO 4 Pestisida, Insectisida, Bayclin, dll.     ...

BAB VII PENGOLAHAN DAN PENYIMANPANAN BENIH - CHAPTER VII PROCESSING AND SETTLEMENT OF BENEFITS

Viabilitas dan vigor setiap jenis benih tanaman berada dalam keadaan maksimum pada saat buah masak penuh, kecuali benih dalam keadaan dormansi. Sejak benih mencapai masak fisiologis (buah masak penuh), viabilitas dan vigor benih tanaman menurun dan yang dapat kita kerjakan yaitu memperlambat penurunan ini sebesar mungkin. Pengolahan benih bertujuan mempertahankan viabilitas benih yang dicapai pada saat panen dan menekan laju kemunduran/penurunan mutu benih selama proses pengolahan dan penyimpanan benih. Bila tanaman tidak segera dipanen, kemunduran dapat terjadi di lahan produksi. Kadar air benih yang tinggi disertai dengan temperatur yang tinggi di lapang dapat merusak benih, demikian juga oleh cuaca, insekta dan penyakit. Ditambah pula tindakan yang berlebihan dalam panen dan pengolahan untuk menyiapkan benih siap dijual dapat merusak benih akibat kerusakan mekanik. Jumlah kerusakan mekanik yang diderita oleh benih berhubungan sangat erat dengan kadar air benih. Kadar ai...