Skip to main content

BAB VII PENGOLAHAN DAN PENYIMANPANAN BENIH - CHAPTER VII PROCESSING AND SETTLEMENT OF BENEFITS

Viabilitas dan vigor setiap jenis benih tanaman berada dalam keadaan maksimum
pada saat buah masak penuh, kecuali benih dalam keadaan dormansi. Sejak benih
mencapai masak fisiologis (buah masak penuh), viabilitas dan vigor benih tanaman
menurun dan yang dapat kita kerjakan yaitu memperlambat penurunan ini sebesar
mungkin. Pengolahan benih bertujuan mempertahankan viabilitas benih yang dicapai
pada saat panen dan menekan laju kemunduran/penurunan mutu benih selama proses
pengolahan dan penyimpanan benih.

Bila tanaman tidak segera dipanen, kemunduran dapat terjadi di lahan produksi.
BAB VII PENGOLAHAN DAN PENYIMANPANAN BENIH - CHAPTER VII PROCESSING AND SETTLEMENT OF BENEFITSKadar air benih yang tinggi disertai dengan temperatur yang tinggi di lapang dapat
merusak benih, demikian juga oleh cuaca, insekta dan penyakit. Ditambah pula tindakan
yang berlebihan dalam panen dan pengolahan untuk menyiapkan benih siap dijual dapat
merusak benih akibat kerusakan mekanik. Jumlah kerusakan mekanik yang diderita oleh
benih berhubungan sangat erat dengan kadar air benih. Kadar air benih yang paling aman
untuk dipanen dan diolah bebeda dari tanaman yang satu dengan tanaman yang lain.
Kerusakan mekanik benih dapat mengakibatkan masalah sekunder yang penting yaitu
masuknya jamur sehingga menimbulkan kerusakan terhadap daya berkecambah dan
vigor.

Penentuan metoda memisahkan biji (ekstraksi biji) dari buah

Kegiatan pengolahan benih (ekstraksi biji) ditentukan oleh jenis tanaman atau tipe
buah yang akan dijadikan benih. Berdasarkan jenis atau tipe buah, dikelompokkan ke
dalam 2 tipe, yaitu tipe buah kering (dry fruit) dan tipe buah basah (fleshy fruit). Buah
kering adalah buah yang akan membuka dengan sendirinya apabila dikeringkan terutama
jika buah tersebut dipetik saat masak yang tepat. Pemisahan biji dari buah pada tipe buah
kering dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin khusus. Umumnya tahapan
pengolahan benih pada serealia dan polong-polongan yang merupakan tipe buah kering
adalah pengeringan, perontokan (padi), pemisahan biji dari polong, pembersihan dan
pemilahan (sortasi), pengeringan ulang, perlakuan/perawatan benih, pengemasan,
pengujian mutu benih, dan penyimpanan.

Buah basah adalah buah yang mengandung air (juice) dan daging buah (pulp) yang
dapat mengalami proses fermentasi segera setelah dipanen. Untuk mencegah penurunan
viabilitas benih dan investasi mikroorganisme perlu dilakukan penghilangan daging buah
(depulping). Pada sebagian buah basah mengandung zat yang bersifat inhibitor yang
dapat menghambat perkecambahan benih seperti coumarin pd buah tomat. Kegiatan
pengolahan benih pada tipe buah basah dimulai dari pengumpulan buah,
pemisahan/sortasi buah sebelum diolah, ekstraksi biji dari daging buah, pencucian biji,
pengeringan, pengemasan, dan pengujian mutu.

Sortasi buah/ polong merupakan kegiatan pemisahan buah/polong yang sudah
masak dari yang belum/kurang masak, kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang
terpisah. Sortasi juga dilakukan pada buah yang dianggap berbeda varietasnya dengan
calon benih yang akan diproduksi bertujuan untuk meningkatkan kemurnian benih.
Ekstrasi biji adalah proses mengeluarkan biji dari buah/polongnya. Cara ekstrasi
berbeda-beda tergantung dari jenis buah. Ekstraksi biji dari buah berdaging dimulai dari
membuang pericarp buahnya dengan cara merendam buah tersebut dalam air sehingga
daging buahnya mengembang sedang bijinya mengendap. Cara mengeluarkan biji pada
buah kering dimulai dari menjemur buah/polong di panas matahari sehingga polong
pecah/terbuka.

Pembersihan dan sortasi biji calon benih setelah dipisahkan dari buahnya perlu
dilakukan untuk meningkatkan kemurnian benih secara fisik. Biji yang sudah terpisah dari
buah masih mengandung kotoran berupa sekam, sisa polong, ranting, sisa sayap, daging
buah, tanah, dan benih yang rusak, harus dibuang untuk meningkatkan mutunya. Ada dua
cara sederhana untuk membersihkan benih yaitu secara manual seperti menampi atau
menggunakan saringan dan secara mekanis yaitu menggunakan alat peniup benih (seed
blower). Setelah pembersihan jika dirasa perlu, dilakukan sortasi benih untuk memilih
benih sesuai dengan ukuran.

Grading

Grading pada pengolahan benih adalah tindakan mengelompokkan benih
berdasarkan ukuran atau warnanya. Penggolongan tersebut dilaksanakan berdasarkan
pada sifat-sifat morfologi benih atau fisiologi benih seperti dimensi benih atau berat jenis
benih. Grading benih dapat mencegah penggunaan benih yang tidak baik. Hal ini dapat
membantu mengurangi biaya pemupukan, budidaya, dan pengendalian gulma. Grading
(pemilahan benih) dilakukan untuk mendapatkan benih yang seragam dalam ukuran,
warna,bentuk, dan bobotnya. Beberapa cara grading calon benih:
1. Secara manual, dengan menggunakan tangan.
2. Secara mekanik, dengan menggunakan alat yang memiliki beberapa saringan
bertingkat dengan diameter lubang yang berbeda setiap tingkat. Tingkat atas selalu
lebih besar diameternya dibandingkan dengan tingkat yang berada di bawahnya.
3. Pemisahan benih berdasarkan warna melalui komputer dengan cara Pre-Vac dan IDS
yang populer khususnya untuk jenis tanaman berdaun jarum. Dengan demikian akan
didapatkan benih yang berkualitas baik dengan ukuran seragam.
4. Memisahkan benih yang rusak karena mesin dari benih yang tidak rusak dengan
memanfaatkan perbedaan tingkat penyerapan (uptake) air.
5. Pemisahan melalui inkubasi pengeringan (Incubation – Drying – Separation), yaitu
memisahkan benih yang mati dengan memanfaatkan perbedaan tingkat pengeringan
benih.

Pengeringan benih

Biji yang baru dikeluarkan dari buahnya, biasanya mengandung kadar air yang cukup
tinggi, untuk itu perlu dikeringkan sebelum benih tersebut disimpan. Tetapi tidak semua
benih boleh dikeringkan. Kadar air yang diperlukan untuk setiap benih berbeda.
Berdasarkan kadar air dan daya simpannya benih dikelompokkan ke dalam
benih ortodoks (jagung, cabai, tomat, padi) dan rekalsitran (rambutan, manggis,
mangga). Benih ortodoks adalah benih yang dapat disimpan untuk jangka waktu yang
lama. Benih memerlukan kadar air yang rendah untuk mempertahankan viabilitas dan
vigornya selama penyimpanan. Benih rekalsitran adalah benih yang tidak dapat disimpan.
Kadar air benih tipe rekalsitran tetap dipertahankan tinggi.

Pengeringan benih mencakup dua proses. Yang pertama yaitu pengalihan
kelembapan dari permukaan benih ke udara sekeliling benih dan kedua pemindahan air
dari bagian dalam benih ke permukaan benih. Proses pertama, pengalihan air dari
permukaan benih ke udara sekelilingnya, semata-mata merupakan suatu fungsi dari
perbedaan tekanan uap antara permukaan benih ke udara sekelilingnya. Dengan kata lain
semakin basah permukaan benih dan semakin kering udara sekelilingnya, maka makin
cepat pergerakan air dari permukaan benih ke udara sekelilingnya itu.

Syarat pengeringan benih adalah evaporasi uap air dari permukaan benih harus
diikuti perpindahan uap air dari bagian dalam ke permukaan benihnya. Jika air menguap
dari permukaan benih ke udara, maka di dalam benih terjadi suatu gradien uap air yang
menyebabkan uap air dari dalam bergerak ke arah permukaan benih. Jika evaporasi di
permukaan benih berlangsung terlalu cepat, maka tekanan kelembapan yang terjadi
berlebihan akan merusak embrio benih dan menyebabkan kehilangan viabilitasnya. Jadi,
penting sekali untuk mengawasi pengeringan benih secara cermat untuk mencegah
kerusakan akibat tekanan tersebut. Pengeringan calon benih yang terlalu lama sehingga
kadar air benih menjadi sangat rendah, dapat berakibat benih menjadi dorman (biji keras)
bahkan embrio menjadi mati.

Perlakuan Benih Sebelum Dikemas

Tujuan memberikan perlakuan kepada benih sebelum dikemas adalah untuk mencegah
atau mematikan penyebab penyakit yang terbawa oleh benih. Selain itu perlakuan benih
juga dapat melindungi benih dari serangan patogen yang berada dalam tanah pada saat
ditanam.

Berbagai cara perlakuan benih berdasarkan tujuannya:

1. Disinfektasi benih, bertujuan untuk mengeradikasi patogen yang telah menginfeksi
benih, dimana patogennya berada dalam kulit biji atau jaringan –jaringan yang lebih
dalam. Contoh:
• Perlakuan benih dengan air panas.
• Perendaman benih dalam 0,8 % acetid acid selama 24 jam.
• Organisme penyebab bakterial kanker dapat dieradikasi dari benih tomat dengan
cara membiarkan benih bersama daging buahnya mengalami fermentasi selama
96 jam pada 20 0C. patogen akan mati disebabkan meningkatnya kandungan asam
dalam daging buah.
2. Disinfestasi benih, ditujukan terhadap organisme yang terdapat dipermukaan benih.
Bahan kimia yang digunakan antara lain: ceresa MDB panogen 15 ceresan L dan
chipcote.
3. Proteksi benih, didasarkan pada prinsip untuk melindungi benih dan kecambah
tanaman dengan suatu fungisida yang akan mencegah infeksi dan kerusakan yang
disebabkan oleh patogen terutama organisme tanah. Contohnya: captan, thiram,
dichlone.

Beberapa senyawa organik yang diberikan pada benih tanaman berbiji kecil
sebagai disinfestasi juga bertindak sebagai protektan. Misalnya senyawa
heksaclorobenzena yang diberikan pada benih gandum bertindak sebagai disinfestan dan
protektan terhadap serangan semut teliospore dalam tanah. Bahan-bahan kimia yang
digunakan untuk memberantas hama maupun penyakit tanaman dikenal dengan istilah
pestisida yang berasal dari kata “caido“ yang berarti membunuh. Menurut penggunaanya
pestisida dibedakan menjadi insektisida (untuk serangga), rodentisida (tikus), bakterisida
(bakteri) , Akarisida (tungau), dll. Sedangkan pestisida untuk membasmi cendawan
disebut fungisida. Secara ideal fungisida harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Fungisida harus efektif pada konsentrasi yang tidak membahayakan benih atau
tanaman yang diperlakukan
2. Tidak beracun bagi manusia ataupun hewan.
3. Cukup stabil dan lekat agar tetap efektif dalam waktu lama
4. Tidak memiliki efek samping yang dapat merugikan keseimbangan biologis
5. Tidak menimbulkan resistensi pada patogen.
6. Harganya cukup murah ditinjau dari segi ekonomis.
Penggunaan fungisida dalam perlakuan benih dapat digunakan secara kering (dry
methode) dan basah (wet methode). Secara basah, fungisida dapat digunakan dalam
bentuk cairan atau larutan (liquid).

Pengemasan benih

Pengemasan benih bertujuan untuk mempermudah dalam penyaluran dan
transportasi benih serta melindungi benih selama penyimpanan terutama dalam
mempertahankan mutu benih (kadar air, viabilitas, dan vigor) serta menghindari dari
serangan serangga. Jenis kemasan yang dapat digunakan adalah (1) kemasan yang kedap
uap air seperti aluminium foil, plastik, botol, dan kaleng; (2) kemasan yang porous seperti
kain, karung goni, karung plastik.
Penentuan jenis kemasan dan cara pengemasan benih tergantung kepada tipe benih,
kondisi ruang penyimpanan (suhu dan RH), kadar air awal, lama penyimpanan benih.
Penyimpanan sementara, dalam jangka pendek, dapat digunakan karung plastik.
Penyimpanan dalam jangka waktu yang cukup lama, sebaiknya menggunakan kantong
plastik dengan ketebalan minimal 0,8 mm yang di-seal/kelim rapat.
Benih yang hendak dipasarkan, pada kemasan benih harus mencantumkan data
mengenai nama varietas, kemurnian, daya tumbuh atau daya berkecambah, nama
produsen, dan masa kadaluwarsa. Data ini diperlukan oleh petani pengguna (konsumen),
pedagang, ataupun produsen.

Penyimpanan Benih

Tujuan penyimpanan adalah (1) menjaga biji agar tetap dalam keadaan baik (viabilitas
dan vigor benih tetap tinggi) pada saat digunakan, (2) melindungi biji dari serangan hama
dan jamur, (3) mencukupi persediaan biji untuk musim tanam atau pada tahun-tahun
berikutnya.
Ada tiga faktor yang penting selama penyimpanan benih yaitu, kadar air benih
sebelum disimpan, suhu dan kelembapan udara di sekitar benih. Umumnya benih dapat
dipertahankan tetap baik dalam jangka waktu yang cukup lama apabila kadar air awal
rendah (8-10%), suhu tidak melebihi 20 0C, dan kelembapan udara rendah (kurang 65%).
Benih rekalsitran tidak dapat disimpan lama, memerlukan kadar air tinggi selama
penyimpanan, untuk itu selama penyimpanan kadar air benih perlu dipertahankan tinggi.
Penyimpanan benih rekalsitran dapat menggunakan serbuk gergaji atau serbuk arang.
Caranya yaitu dengan memasukkan benih ke dalam serbuk gergaji atau arang.
Benih ortodoks dapat disimpan lama pada kadar air biji 8-10% atau di bawahnya.
Penyimpanan dapat dilakukan dengan menggunakan wadah seperti karung kain, toples
kaca/ plastik, plastik, kaleng, dll. Setelah itu benih dapat di simpan pada suhu kamar atau
pada temperatur rendah “cold storage” umumnya pada suhu 2-5oC. Untuk penyimpanan
lama, wadah yang digunakan sebaiknya kedap udara, kuat (tidak mudah robek atau
pecah), serta tahan lama.

Comments

Popular posts from this blog

BAB I KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA - CHAPTER I HEALTH AND SAFETY SAFETY

JENIS - JENIS BAHAYA DAN PROSEDUR K3 DI LABORATORIUM KULTUR JARINGAN         Kecelakaan biasanya terjadi karena seseorang mengabaikan keselamatan saat sedang bekerja di laboratium kerja. Jenis bahaya potensial dapat disebabkan oleh radiasi ultraviole, bahan yang mudah terbakar, bahan kimia, kontaminan, dan perlatan yang sedang digunakan.        Pada proses pembuatan media kultur dan sterilisasi eksplan pekerja selalu berhubungan dengan penggunaan bahan -  bahan kimia bersifat racun yang dapat menciderai dirinya, baik melalui pernafasan maupun sentuhan kulit. Beberapa dari bahan kimia ini yang berpotensi membuat bahaya bagi pelaksana di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman adalah : Bahan yang bersifat abrasive: Al2O3 (alumina Oksida), Kapur/Calcium Carbonat (CaCO2), Silica dari alumina, besi, cobalt magnesim, dan lain - lain. Cairan electrolit seperti, HCI, NaOH, H2SO 4 Pestisida, Insectisida, Bayclin, dll.     ...

BAB VI PRODUKSI BENIH (SEED) TANAMAN - CHAPTER VI SEED PRODUCTION (SEED) PLANTS

Pada bab ini, benih yang akan dibahas adalah benih yang diproduksi dalam bentuk biji (hasil fertilisasi/seed). Tahapan yang perlu dilakukan dalam produksi benih tanaman adalah menentukan jenis dan kultivar/varietas benih yang akan diproduksi, menghitung kebutuhan benih, pembibitan, penyiapan lahan produksi, pemeliharaan (pengairan, roguing, penyerbukan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit tanaman), panen dan penangan hasil panen. Benih sumber atau benih yang akan digunakan untuk memproduksi benih haruslah benih yang bermutu dan jelas asal-usulnya. Benih bermutu adalah benih asli (sesuai dengan deskripsi varietas yang akan diproduksi, murni (tidak tercampur dengan varietas lain), viabilitas dan vigor tinggi, sehat (fisik tidak rusak dan tidak membawa patogen), dan bersih (bebas dari kotoran). Dalam sertifikasi benih terdapat 4 kelas benih yang dapat digunakan sebagai sumber benih, yaitu benih dasar, benih pokok, dan benih sebar. Benih dasar adalah keturunan pertama ...